Saturday, September 8, 2018

Willem Iskander, Pelopor Pendidikan Guru

Dalam masa penjajahan setelah Mandailing dikuasai Belanda pada 1833, perubahan masyarakat yang semula berdaulat di bawah raja menjadi rakyat jajahan dengan pengerukan kekayaan alam dan tradisi perbudakan. Kondisi keterjajahan itu tak menyurutkan langkah Willem Iskander untuk menginspirasi ide kebebasan sebagai embrio kemerdekaan rakyat Mandailing dari penjajahan tersebut. 


Kejelian WilliemIskander melihat kondisi saat itu untuk keluar dari keterjajahan adalah dengan mencerdaskan kehidupan rakyat Mandailing. Pemilik nama lahir Sati Nasution ini mempelopori gagasan itu dengan mengkaderisasi calon-calon guru lewat sekolah guru Kweekschool Tanobato yang dia dirikan pada Oktober 1862. 

Willem Iskander giat masuk keluar rumah warga untuk membujuk dan mengajak anak-anak gadis Mandailing masuk ke sekolahnya. Hal ini memang menerobos kebiasaan pada masa itu, umumnya anak gadis hanya akan menjadi istri dan tukang masak bagi suami serta anak-anaknya. 

Kweekschool Tanobato yang didirikan oleh Willem Iskander ada sekolah guru yang ketiga setelah Kweekschool di Surakarta, Jawa Tengah, tahun 1851 dan Kweekschool Fort de Kock di Bukittinggi, Sumatra Barat, tahun 1856. Kedua sekolah guru itu didirikan Belanda untuk anak-anak bangsawan sehingga disebut Sekolah Raja dan hampir semua lulusannya menjadi pegawai Belanda saat itu. 

Miliki Kekhasan 
Berbeda dengan Kweekschool Tanobato yang memiliki kekhasan tersendiri. Sekolah ini terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat dan terus dikembangkan sebagai sekolah guru serta menggunakan bahasa pengantar Mandailing. Hal ini jugalah yang membuat Willem Iskander dikenal sebagai pelopor sekolah guru di kampung halamannya. 

Kweekschool Tanobato ditutup tahun 1874 bersamaan dengan kepergian Willem Iskander ke Nederland untuk meneruskan sekolah guru lanjutan. Beberapa muridnya melanjutkan sekolah di Kweekschool Fort de Kock di Bukittinggi, Sumatra Barat. 

Selama 12 tahun, Willem Iskander berhasil menjadikan Kweekschool Tanobato sebagai pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan di tanah Mandailing. Dia selalu berusaha keras mengajarkan ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya hingga mengembangkan penalaran mereka agar mampu menggali dan membangun nilai-nilai budaya serta kearifan lokalnya. 

Pengarang Puisi 
Selain sebagai pelopor pendidikan guru, Willem Iskander juga dikenal sebagai pengarang dengan karya prosa dan puisi bernada satiris. Tujuh prosa dan 13 puisi satiris itu terkumpul dalam Si Bulus Bulus Si Rumbuk Rumbuk (Lurus, Tulus, dan Mufakat) mampu menginspirasi gagasan kebangsaan dan kemerdekaan. 

Bahkan karya Willem Iskander itu pernah dilarang terbit dan dibacakan selama beberapa tahun di 1930-an oleh pemerintah jajahan Belanda. Hal itu dikarenakan karya-karyanya dianggap menyulutkan semangat pemberontakan dan kemerdekaan. 

Pelarangan itu menyusul penangkapan para pejuang kemerdekaan dari Tapanuli Selatan dengan empat tokohnya Buyung Siregar, Mahidding Nasution, Abdul Kosim Daulae, dan Kamaluddin Nasution pada 1932. Mereka dipersalahkan membakar semangat kejuangan rakyat dan selalu membacakan puisi Willem Iskander dalam aksi gerakannya. 

Karya sastra Willem Iskander memang tidak banyak dari segi jumlah, tetapi karyanya sangat berarti dan menjadi bagian dari inspirasi kemerdekaan dan kebebasan. Selain berisi pesan perjungan, karyanya juga menggelorakan pesan-pesan religious, nasionalisme, dan wawas diri. 

Bahkan karya-karya Willem Iskander itu sudah mendahului karya-karya sastrawan Pujangga baru dengan memelopori bentuk pantun empat seuntai. Pantun ini mempunyai sajak berupa a, b, a, b dan kedua baris pertama tidak mempunyai pertalian arti dengan kalimat baru terakhir. 

Dalam konteks ketokohan Willem Iskander, utamanya pada bidang pengembangan pendidikan guru serta karya puisi dan prosa sebagai sarana pencerahan, kekuatannya terletak pada kepeloporan dan idealisme meningkatkan harkat bangsa. Kesetiaan Willem Iskander pada profesi guru sejati merupakan ujung tombak gerakan pencerahan. 

Selama hidupnya yang relatif pendek (36 tahun), Willem Iskander berhasil menginspirasi ide kemerdekaan dan kebebasan bagi masyarakat Mandailing saat itu serta merupakan embrio cita-cita terbebas dari keterjajahan. Berpijak pada hak asasi kemanusiaan sebagai manusia ciptaan yang berdaulat, dia berhasil menanamkan pengaruh ide-ide kebebasannya lewat karya prosa dan puisinya. 

Pionir Pendidikan Bumiputera 
Daoed Joesoef mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1978-1983 dengan tegas menyatakan Willem Iskander adalah seorang pionir pendidikan Bumiputera (nama lain dari Kweekschool Tanobato). Menurutnya, Willem Iskander telah membuktikan kemampuannya memimpin lembaga sekolah guru. Kecerdasan, komitmen, dan pengalamannya memberikan inspirasi strategisnya peranan guru. 

Daoed Joesoef pun mengatakan bahwa Willem Iskander adalah seorang tokoh pemikir genius yang dimiliki bangsa ini. Willem Iskander dikatakannya sebagai manusia pemikir yang meletakkan dasar besar dan mulianya peranan guru sebagai pendidik. WillemIskandar wafat pada 8 Mei 1867 di Amsterdam dan dimakamkan di Zorgvlietbegraafplaats di Amstelveen di pinggir kota Amsterdam.

Hanya seorang gelandangan yang sedang mencari tujuan hidup

Berkomentarlah dengan cerdas dan santun
EmoticonEmoticon