Wednesday, September 5, 2018

Tengku Amir Hamzah, Raja Penyair Zaman Pujangga Baru

Sastra merupakan satu dari bagian penting pendidikan, hal itu karena kemampuannya mengubah pola pikir masyarakat serta mampu membuka mata pembacanya tentang realita politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Di era pujangga baru (sejak 1933), lahir raja penyair dari bangsawan Kesultanan Langkat, Sumatra Utara, yang bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera. Di majalah Timboel yang diasuh oleh Sanusi Pane saat itu, Amir Hamzah menyiarkan puisinya yang berjudul “Mabuk” dan “Sunyi” yang menandai debutnya di dunia kesusastraan Indonesia. 


Sejak saat itu banyak sekali karya sastra yang dibuat oleh Amir Hamzah, tercatat ada 50 puisi yang dia tulis serta 18 puisi prosa, 77 puisi terjemahan, 1 puisi prosa terjemahan, 13 prosa, 1 prosa terjemahan, dan lainnya. Karya-karyanya erat dengan tema cinta dan agama yang seringkali menimbulkan konflik batin yang mendalam. Pemilihan diksi dalam karyanya menggunakan kata-kata dalam Bahasa Melayu dan Bahasa Jawa guna memperluas struktur tradisional yang dipengaruhi oleh kebutuhan ritme dan metrum serta simbolisme yang berkaitan dengan istilah-istilah tertentu. 

Lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara pada 28 Februari 1911, Amir Hamzah kecil bersekolah di Langkatsche School di tanjung Pura pada 1916. Dia melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) sekolah menengah di Medan dan setahun kemudian dia pindah ke Batavia untuk melanjutkan sekolah di Christelijk MULO Menjangan dan lulus pada 1927. Kemudian dia melanjutkan studinya di Aglemenee Middelbare School, sekolah lanjutan tingkat atas di Solo, Jawa Tengah, dan mengambil disiplin ilmu pada Jurusan Sastra Timur. 

Amir Hamzah merupakan siswa yang memiliki kedisiplinan tinggi dan selama mengenyam pendidikan di Solo, dia pun mulai mengasah minatnya terhadap sastra sekaligus berobsesi atas kepnyairannya. Saat itulah dia mulai menulis beberapa sajak pertamanya tersebut yang kemudian terangkum dalam antologi Buah Rindu yang terbit pada 1943. 

Setelah menyelesaikan studi di Solo, Amir Hamzah kembali ke Jakarta untuk melanjutkan studi kembali di Sekolah Hakim Tinggi pada awal 1934. Semasa di Jakarta, tumbuh rasa kebangsaan dalam dirinya yang semakin kuat dan berpengaruh pada wataknya. Hal itu pun yang membuat Belanda khawatir tentang nasionalisme Amir Hamzah hingga meyakinkan Sultan Langkat untuk menarik dia ke kampung halamannya, perintah itu pun tak dapat ditolaknya. Sesampainya di Langkat, Amir Hamzah dinikahkan dengan putri tertua Sultan Langkat, Tengku Putri Kamiliah, pada 1937 kemudian keduanya memiliki putri bernama Tengku Tahoera pada 1939. 

Revolusi sosial yang meletus pada 3 Maret 1946 menjadi akhir bagi kehidupan Amir Hamzah. Dia menjadi salah satu korban penangkapan yang dilakukan oleh pasukan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) yang kala itu menangkap sekitar 21 tokoh feodal termasuk Amir Hamzah pada 7 Maret 1946. Orang-orang yang ditangkap Pesindo itu pun dihukum mati pada 20 Maret 1946. Amir Hamzah bersama korban lainnya wafat di pemakaman massal Kuala Begumit Langkat yang sebelumnya digali sendir oleh para korban tersebut. 

Pada 1948 pemakaman massal di Kuala Begumit Langkat tersebut digali dan ditemukan tulang benulang Amir Hamzah yang kemudian dikuburkan kembali di pemakaman Masjid Azizi Langkat pada November 1949. Atas jasa-jasanya itu, Amir Hamzah kemudian diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 106 Tahun 1975, tanggal 3 November 1975.

Hanya seorang gelandangan yang sedang mencari tujuan hidup

1 komentar

Berkomentarlah dengan cerdas dan santun
EmoticonEmoticon