Friday, September 7, 2018

Raja Ali Haji, Sang Penulis dan Pengajar

Banyak sekali julukan untuk Raja Ali Haji, pahlawan nasional dari Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Ia adalah ulama, ahli sejarah, pujangga, penyair, dan Bapak Bahasa Indonesia yang mendapat gelar Pahlawan Nasional 10 November tahun 2004 lalu. Raja Ali Haji juga seorang guru. 



Karya-karyanya memuat banyak hal, seperti nilai keagamaan, pendidikan karakter, kesejarahan dan kehalusan budi pekerti. Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad lahir di Selangor, meskipun ada yang menyebut lahir di Penyengat tahun 1803. Tahun kematiannya juga jadi perdebatan, meski sebagian besar meyakini meninggal pada 1873 di Penyengat, Kepri. Raja Ali Haji cucu dari pahlawan nasional Raja Haji Fisabilillah yang berdarah Bugis. Dari fakta ini, Raja Ali Haji adalah orang terpandang di istana karena kakeknya adalah Yang Dipertuan Muda (YDM) di Kesultanan Riau Lingga. 

Sebagai orang dalam istana, Raja Ali Haji memeroleh pendidikan yang didapat anak-anak penghuni istana. Ulama-ulama yang datang ke Penyengat tidak saja menjadi sumber memahami agama Islam, tapi oleh Raja Ali Haji kesempatan itu digunakan untuk meningkatkan kemampuan literasinya. Ia berhasil menelurkan tujuh karya tentang berbagai bidang, seperti pendidikan, hukum dan pemerintahan, sejarah, falsafah Melayu, sastra, dan puisi. 

Mengajar Anak-Anak Sekitar 
Jumlah murid yang diajar Raja Ali Haji di Pulau Pengujan sebanyak 60-an orang. Murid-muridnya orang Melayu. Ia membangun sembilan pondok untuk tempat anak-anak belajar agama. Pondok itu dibangun sendiri, dindingnya kajang. Anak-anak yang belajar mengaji juga tinggal di pondok-pondok itu. Anak-anak yang belajar agama berasal dari pulau-pulau sekitarnya, seperti Tembeling, Busung, Penaga hingga Penyengat. 

Dalam membiayai operasional pendidikan anak-anak di Pengujan, Raja Ali Haji kesulitan masalah keuangan. Sebagai penasehat Yang Dipertuan Muda (YDM) bidang keagamaan dan yurisprodensi keislaman, penghasilan Raja Ali Haji tak memadai untuk membiayai keluarga dan murid-muridnya. Sebagai solusi untuk mencari penghasilan tambahan, Raja Ali Haji bercocok tanam, memelihara ternak di Pengujan. Ia juga ikut berdagang. Von de Wall, seorang Jerman yang berkawan baik dengannya juga sangat membantu dalam masalah keuangan. Raja Ali Haji mendapatkan uang dan barang dari Von de Wall karena dibantu dalam hal penulisan kamus Bahasa Melayu. Bantuan Von de Wall meringankan beban ekonomi Raja Ali Haji. 

Di Pengujan selain mengajar dan menulis, Raja Ali Haji juga kadang bermain musik mengisi waktu. Ia pandai bermain gambang dan alat itu mudah dibawanya dari Penyengat ke Pengujan saat akhir pekan. Perhatian dan minat Raja Ali Haji akan musik tak terlepas dari pengalamannya selama mengikuti rombongan kunjungan kehormatan ayahandanya, Raja Ahmad Engku Haji Tua, sebagai wakil Kerajaan Riau-Lingga kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda Bandar Betawi Darul-Masyhur pada tahun 1822.

Hanya seorang gelandangan yang sedang mencari tujuan hidup

Berkomentarlah dengan cerdas dan santun
EmoticonEmoticon