Sunday, September 9, 2018

Raden Ayu Lasminingrat, Pribumi Penggerak Literasi yang Fasih Berbahasa Belanda

Memiliki kecerdasan luar biasa, Raden Ayu Lasminingrat mengawali perjuangannya sebagai penggerak budaya literasi dengan menulis buku terjemahan dari buku-buku terbitan Eropa. Buku terjemahannya itu kemudian dijadikan sebagai buku teks utama untuk sekolah-sekolah di Jawa Barat. Lasmi menulis buku tersebut untuk menyebarluaskan nilai-nilai kebaikan serta pesan moral kepada anak-anak pribumi. 




Raden ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Suhara pada 1843, merupakan putri seorang ulama/kyai, penghulu limbangan, dan sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi merupakan istri kedua dari Raden Adipati Aria Wiratanudatar VIII, Bupati Garut. Wafat pada 10 April 1948 dalam usia 105 tahun. Jenazahnya dimakamkan di belakang Masjid Agung Garut, berdampingan dengan makam suaminya. 

Lasminingrat mendapat pendidikan di sekolah Belanda di daerah Sumedang. Karena pendidikannya itu, ia mampu berbahasa Belanda, bahasa yang jarang dikuasai oleh masyarakat pribumi. Dengan keterampilan berbahasa itu, ia tidak canggung bergaul bersama orang-orang Belanda. Atas kemahirannya itu pula, Lasminingrat berhasil menerbitkan buku Tjarita Ermanyang merupakan terjemahan dari karya Christoph von Schmid, kemudian Warnasari atawa Roepa-Roepa Dongeng.Kedua karya itu menjadi salah satu buku pelajaran, bukan saja di Garut, tetapi tersebar hingga luar Jawa yang diterjemahkan dalam bahasa Melayu. 

Didikan Orang Belanda 
Ayah Lasminingrat, Muhammad Musa adalah sosok yang mendorong anak-anaknya untuk menguasai ilmu pengetahuan, di samping pendidikanagama, termasuk kepada Lasminingrat. Karena itulah, sang ayah meminta kepada Levyssohn Norman, yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Umum Gubernur Jenderal untuk menjadi orang tua angkat bagi Lasminingrat. 

Permintaan itu disanggupi. Dari keluarga Norman inilah Suhara, nama Lasminingrat sebelum menikah, menimba ilmu, sehingga mampu meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa Belanda dan sastra. Selama tinggal di rumah keluarga Norman, Suhara hidup dalam lingkungan yang serba berkecukupan. Akan tetapi kondisi itu tidak menjadi dirinya bermalas-malasan. Dia sangatlah disiplin, cerdas, dan pintar dalam memanfaatkan waktunya untuk menimba ilmu dibandingkan bermain. Semangat belajar yang ditunjukkan oleh Suhara sangat tinggi, sehingga ia dapat mempelajari buku-buku maupun bahan bacaan lainnya secara mandiri. Ia juga sering berdiskusi dengan orang tua angkat dan keluarga barunya itu. 

Pengetahuan yang berhasil diserap selama bergaul dengan keluarga Levyssohn norman membuat dirina semakin menyadari pentingnya ilmu pengetahuan bagi kaum pribumi. Kesadaran inilah yang mendorong Suhara bercita-cita mendirikan sekolah sebagai tempat untuk pembelajaran dan memberikan ilmu pengetahuan, terutama bagi masyarakat pribumi, khususnya perempuan. 

Ketika menempuh pendidikan di Sumedang, Suhara bertemu dengan Raden Tamtu, putra Pangeran Sugih, Bupati Sumedang saat itu. Pertemuan itu kemudian berkembang menjadi pertemanan penuh kasih sayang yang akhirnya membawanya ke pelaminan. Seperti umumnya menak Sunda, setelah menikah Suhara mendapat nama baru, yaitu Raden Ayu Lasminingrat. Namun kehidupan rumah tangganya tidak berlangsung lama, karena suaminya meninggal dunia tanpa meninggalkan seorang anak pun. Setelah menjanda, Lasminingrat kembali ke rumah orang tuanya di Limbangan, Garut. 

Menyadur Buku-Buku Barat 
Di Limbangan, Lasminingrat tidak terlalu lama hidup menjanda. Keberadaannya telah menarik hati bupati setempat, yaitu Raden Adipati Aria Wiratanudatar VIII. Lasminingrat dilamar oleh bupati itu untuk dijadikan sebagai istrinya yang kedua. Dari pernikahan itu, Lasminingrat dikaruniai dua anak perempuan, yaitu Raden Cicih dan Raden Mojaningrat. 

Sebagai seorang bupati, Wiratanudatar memahami karakter dan semangat kerja istrinya yang ingin memajukan kaumnya. Ia memberikan kebebasan dan semangat kepadanya untuk tetap melaksanakan cita-citanya, antara lain menyadur buku-buku dongeng karya penulis-penulis Eropa. 

Menyadur buku-buku Barat, menurut Lasminingrat tidak hanya sebagai hiburan yang bermanfaat, tetapi juga sebagai suatu pelajaran khususnya bagi kaum perempuan. Buku-buku tersebut ia peroleh saat masih tinggal bersama keluarga Norman di Sumedang. Lasminingrat menganggap buku-buku tersebut mengandung pesan moral yang baik untuk dipelajari oleh masyarakat pribumi. 

Kumpulan sadurannya itu diterbitkan oleh percetakan milik negara yang dicetak pada tahun 1875 sebanyak 6.015 eksemplar. Pada edisi pertama, buku saduran ini ditulis dengan menggunakan huruf Jawa. Buku tersebut ternyata banyak diminati pembaca, sehingga dicetak ulang pada tahun 1911. Buku Tjarita Erman saduran Lasminingrat juga menarik masyarakat di luar Sunda, sehingga tahun 1922 mereka meminta agar buku tersebut diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Melayu yang jangkauanna lebih luas daripada bahasa Sunda untuk kepentingan pendidikan. 

Dalam rangka pengadaan bahan bacaan bagi sekolah-sekolah di luar penutur bahasa Sunda, maka pada tahun 1919 MS Tjakrabangsa menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Melayu dengan judul Hikajat Erman. 

Karya lain yang dihasilkan Lasminingrat tidak terbatas pada terjemahan dari bahasa Belanda, tetapi juga karya dari negara lainna, seperti Jerman dan Belgia. Pada tahun 1876, Lasminingrat menulis buku Warnasari atau yang diterjemahkan menjadi Roepa-Roepa Dongeng dari karya Maschen von Grimm dan J.A.A. Gouverneur yang berjudul Vertelsels uit het Wonderland voor Kinderen, Kein en Groot. 

Seperti halnya Tjarita Erman, Warnasari jilid I ditulis dalam huruf Jawa. Saduran ini juga ternyata menarik pembaca dan cepat terjual sehingga pemerintah mencetaknya kembali. Dalam cetakan berikutnya, Warnasari juga dialihaksarakan ke dalam huruf Melayu. 

Mendirikan Sekolah 
Usianya yang sudah tidak lagi muda tidak menyurutkan keinginan Lasminingrat untuk mendirikan sekolah bagi kaum perempuan. Ia mendirikan Sekolah Kautamaan Istri pada 1907 di ruang gamelan pada pendoponya di Kabupaten Garut. Baru kemudian pada 1911, ruangan sekolah pindah ke bangunan sekolah khusus. 

Perkembangan sekolah ini cukup pesat. Pada 1911, jumlah muridnya mencapai 200 orang, dan lima kelas dibangun di sebelah pendopo. Sekolah ini akhirnya mendapat pengesahan dari pemerintah Hindia Belanda pada 1913. Pada 1934, cabang-cabang sekolah yang didirikannya ini dibangun di kota Wetan Garut, Boyongbong, dan Cikajang. 

Raden Ayu Lasminingrat adalah seorang pelopor kesusastraan, penggerak emansipasi dan pendidikan untuk perempuan, serta intelektual yang cerdas pada zamannya. Ia tidak hanya menjadi bagian dari ingatan kolektif di dalam masyarakat Garut maupun Jawa Barat, tetapi juga masyarakat Indonesia karena perjuangannya di dalam mendidik kaum perempuan pribumi. 

Semangat perjuangan untuk terus mencari ilmu pengetahuan terus ditularkan kepada seluruh masyarakat, khususnya perempuan, melalui dorongan untuk membaca dan menempuh pendidikan di sekolah. Meskipun namanya tenggelam di dalam sejarah nasional bangsa Indonesia, akan tetapi jasa-jasanya terus diabadikan oleh pemerintah.

Hanya seorang gelandangan yang sedang mencari tujuan hidup

Berkomentarlah dengan cerdas dan santun
EmoticonEmoticon