Tuesday, September 25, 2018

Penguatan Pendidikan Karakter Mengembalikan Jati Diri Guru sebagai Pendidik

Sebagaimana ajaran dari Ki Hajar Dewantara, “ing ngarso sung tuladho, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani”, maka seorang guru idealnya memiliki kedekatan dengan anak didiknya. Tidak hanya perkembangan dimensi intelektualitas, namun juga perkembangan kepribadian setiap anak didiknya. Karena itulah melalui kegiatan penguatan pendidikan karakter (PPK), guru memiliki lima peran utama, yaitu sebagai pengajar (tutor), penghubung (resource linkers), penjaga gawang (gate keepers), fasilitator, dan katalisator.


Kunci kesuksesan pendidikan karakter terletak pada peran seorang guru. Peran guru sangat penting dalam pendidikan karakter. Guru harus menjadi sosok yang mencerahkan, membuka alam pikir serta jiwa, memupuk nilai-nilai kasih sayang, nilai-nilai keteladanan, perilaku, moralitas, dan nilai-nilai kebinekaan. Pendidikan karakter sejatinya menjadi inti dari pendidikan yang sesungguhnya. 

Ada lima peran utama guru dalam penguatan pendidikan karakter, yakni sebagai pengajar atau tutor, penghubung (resource linkers), penjaga gawang (gate keepers), fasilitator, dan katalisator. 

Guru adalah pengajar atau tutor mata pelajaran yang harus mampu menyampaikan mata pelajaran agar dimengerti dan dipahami anak didik. Guru juga harus mampu berperan sebagai penghubung anak didik dengan berbagai sumber-sumber belajar yang beragam, yang tidak hanya ada di dalam kelas atau sekolah, namun juga di luar sekolah. Guru juga harus mampu bertindak sebagai penjaga gawang yang membantu anak didik menyaring berbagai pengaruh negatif yang berdampak tidak baik bagi perkembangannya. Guru juga harus bisa berperan sebagai fasilitator yang membantu anak didik mencapai target pembelajaran. Kemudian terakhir sebagai katalisator, guru juga harus mampu menggali dan mengoptimalkan potensi setiap anak didik. 

Saat ini, melalui revisi Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2008 menjadi PP Nomor 19 Tahun 2017, Kemendikbud mendorong perubahan paradigma para guru agar mampu melaksanakan perannya sebagai pendidik profesional yang tidak hanya mampu mencerdaskan anak didik, namun juga membentuk karakter positif mereka agar menjadi generasi emas Indonesia dengan kecakapan abad ke-21. Berdasarkan pasal 15 PP Nomor 19 Tahun 2017, pemenuhan beban kerja guru dapat diperoleh dari ekuivalensi beban kerja tugas tambahan. Kegiatan lain di luar kelas dalam upaya penguatan pendidikan karakter juga dapat dikonversi ke jam tatap muka. Contoh Kreativitas Guru dalam Penguatan Pendidikan Karakter Guru diharapkan memiliki kemampuan berkreasi dalam menciptakan kegiatan yang mendukung penguatan pendidikan karakter. Berbagai kegiatan di dalam maupun di luar kelas bisa diciptakan guru untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan PPK. Misalnya dalam mengenalkan nilai-nilai nasionalisme, guru bisa membawa siswa ke museum. Di museum, guru bisa memperkenalkan sejarah, benda-benda pusaka, atau budaya Indonesia secara langsung, tidak hanya melalui foto yang biasanya terjadi di dalam kelas. Penerapan PPK di sekolah memberikan ruang kepada guru untuk berkreasi. 

Kreativitas guru dalam membuat berbagai kegiatan PPK juga tidak terbatas pada mata pelajaran yang diampunya. Guru Bahasa Indonesia, misalnya, bisa saja mengajarkan siswa bagaimana cara bercocok tanam yang baik, karena ia hobi dan ahli bercocok tanam. Dalam hal ini, guru SD memiliki kelebihan dalam ruang berkreasi, karena pola belajar mengajar di SD berdasarkan Kurikulum 2013 adalah tematik. 

Contoh sederhana lain, guru juga bisa memanggil tukang cilok ke yang kerap berjualan di depan sekolah untuk menjadi sumber belajar di kelas. Siswa bisa belajar kemandirian dan kewirausahaan dari tukang cilok yang akan berbagi pengalaman mengenai persiapan berdagang, penjualan, hingga menghitung hasil, dan bagaimana dia bisa bertahan hidup dari berjualan cilok. 

Bagi sekolah yang berada di daerah, guru bisa saja membawa siswa ke lingkungan alam seperti hutan. Di sana siswa bisa ditugaskan untuk mempelajari jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang terdapat di hutan. Guru tidak perlu tidak terpaku pada pembagian antara intrakurikuler, kokurikuler, dan esktrakurikuler. Sekolah dan guru bisa lebih bebas berkreasi menciptakan kegiatan dalam proses belajar-mengajar. Banyak hal yang bisa diciptkana guru untuk kegiatan PPK sesuai kearifan lokal di daerahnya masing-masing. Semua bentuk kegiatan itu pun bisa disesuaikan dengan lima nilai utama karakter prioritas dalam PPK, yaitu religius, nasionalis, integritas, gotong-royong, dan mandiri.

Seorang pecinta anime.

Berkomentarlah dengan cerdas dan santun
EmoticonEmoticon