Thursday, September 6, 2018

Dewi Sartika, Pahlawan Pendidikan Kaum Perempuan

Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka, Jawa Barat, digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu Kepatihan. Gempar, karena di waktu itu belum banyak anak, apalagi anak rakyat jelata, yang memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan pula oleh seorang anak perempuan, Dewi Sartika. 


Raden Dewi Sartika lahir di Bandung, pada 4 Desember 1884. Sejak kecil ia memang sudah menunjukkan minatnya di bidang pendidikan. Putri dari seorang pejuang kemerdekaan, Raden Somanagara ini mengikuti pendidikan Sekolah Dasar di Cicalengka. Sejak anak-anak, ia sudah senang memerankan perilaku seorang guru. Sebagaimana layaknya anak-anak, biasanya sepulang sekolah, Dewi kecil selalu bermain sekolah-sekolahan dengan teman-teman anak perempuan sebayanya. 

Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda, Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula. Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak dari ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, ia mendapatkan didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda. 

Ia berjuang mendirikan sekolah di Bandung, JawaBarat, agar anak-anak perempuan di sekitarnya bisa memperoleh kesempatan menuntut ilmu pengetahuan. Ketika itu, ia sudah tinggal di Bandung. Perjuangannya tidak sia-sia, dengan bantuan kakeknya, R.A.A. Martanegara, dan Den Hamer yang menjabat Inspektur Kantor Pengajaran ketika itu, pada tahun 1904 Dewi Sartika berhasil mendirikan sebuah sekolah yang dinamainya “Sekolah Isteri”. Awalnya, hanya ada 20 orang yang menjadi muridnya, yang semuanya merupakan perempuan. Mereka diajar berhitung, membaca, menulis, menjahit, merenda, menyulam, dan pelajaran agama. 

Sekolah Isteri tersebut terus mendapat perhatian positif dari masyarakat. Murid- murid bertambah banyak, bahkan ruangan Kepatihan Bandung yang dipinjam sebelumnya juga tidak cukup lagi menampung murid-murid. Untuk mengatasinya, Sekolah Isteri pun kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih luas. Seiring perjalanan waktu, enam tahun sejak didirikan, pada tahun 1910, nama Sekolah Isteri sedikit diperbarui menjadi Sekolah Keutamaan Isteri. Perubahan bukan cuma pada nama saja, tapi mata pelajaran juga bertambah. 

Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Bahkan, semangat itu menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Pada 1920, seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan. 

Dewi Sartika meninggal pada 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.

Hanya seorang gelandangan yang sedang mencari tujuan hidup

Berkomentarlah dengan cerdas dan santun
EmoticonEmoticon