BLANTERVIO103

Words Power

Words Power
8/18/2018
Salah satu hal yang paling membedakan antara manusia dengan hewan adalah kata-kata. Kita bisa bertutur kata yang dengannya kita bisa tertawa, menangis, membuat kita terluka ataupun merasa tenang. Dengan kata-kata itu pula kita mampu mengkomunikasikan semua hal yang ada dalam diri kita kepada orang lain, bahkan dengan kata-kata pula saya bisa berbagi tulisan ini kepada Anda semua.

(Foto: Wonderful Life, Funtastic Life Model)

Dalam sejarahnya, para nabi dan para pemimpin telah mentransformasi para pengikutnya dengan kata-kata, memengaruhi emosi kita, membuat kita terlibat di dalamnya sehingga kita menjadi pengikut-pengikut setianya. Semua hal tersebut dapat sampai kepada kita karena kata-kata.

Kata-kata telah menginspirasi banyak orang di dunia, namun dengan kata-kata pula yang telah menghancurkan sebuah bangsa. Disadari atau tidak, kata-kata dari orang tua dan guru-guru kita telah sangat menginspirasi diri kita, sehingga membuat diri kita menjadi seperti saat ini. Saya yakin saat ini kita masih mengingat beberapa kata-kata penting yang diucapkan oleh orang tua dan guru-guru kita, sehingga kata-kata tersebut menjadi sebuah nilai dan keyakinan kita serta seolah-olah menjadi navigasi dalam kehidupan kita.

Kata merupakan sebuah ekspresi dari perilaku suatu kebudayaan. Jika ada karakter atau perilaku tertentu, pasti ada kata yang mewakili karakter itu, seperti kata “semangat” untuk mewakili sebuah kondisi saat seseorang berada dalam kondisi yang sangat positif untuk mengerjakan suatu hal. Begitu pula kata “bodoh” untuk mewakili sebuah kondisi serba tidak tahu akan suatu hal dalam kehidupan, ketidakmampuan seseorang menelaah sebuah pengetahuan atau ketidakmampuan seseorang dalam mengingat atau apapun.

Namun, percaya atau tidak, ada beberapa negara atau kebudayaan yang tidak memiliki kosakata tertentu. Mengapa seperti itu? Karena memang tidak ada karakter yang diwakili oleh kata-kata tersebut. Di suku Indian, suku asli bangsa Amerika ternyata tidak mengenal kata “bohong” karena didalam kebudayaan mereka tidak dikenal karakter bohong, sehingga tidak ada kata yang mewakili karakter tersebut. Begitu pula di suku Tasaday di Filiphina tidak dikenal kata “tidak suka”,”benci” atau kata “perang”. Bisa kita bayangkan bagaimana kehidupan mereka tanpa konsep dan kata tersebut bukan? Sehingga kita tahu bahwa kata mewakili siapa diri kita.

Semua tulisan diatas dikutip dari Buku yang berjudul Wonderful Life karya Ryan Martian, Halaman: 59-61.
“Kata-kata yang berasal dari lisan kita, musik yang kita dengar ataupun buku yang kita baca, semuanya berkontribusi terhadap diri kita, dengan mengontrolnya berarti kita menyeleksi setiap lintasan kata yang masuk melalui indra kita, sehingga menjadi makanan yang terbaik bagi otak kita.”
Share This Article :
M. Khoirul Anam

Hanya seorang gelandangan yang sedang mencari tujuan hidup

TAMBAHKAN KOMENTAR

Click here for comments 2 komentar:

Berkomentarlah dengan cerdas dan santun

Emoticon

2882994598725087150