Saturday, August 25, 2018

Tuntutan Profesionalisme Kerja Guru

Memilih profesi sebagai guru berarti siap melaksanakan tugas utama, yaitu mendidik, mengajar, membimbing, dan mengarahkan siswa. Menjadi guru juga berarti siap terhadap tuntutan beban kerja, penguasaan empat kompetensi, serta mengabdi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mulianya profesi guru itu tentu harus dibarengi dengan penghargaan serta perlindungan yang memadai pula. Sekolah tidak boleh hanya aman untuk siswa, tetapi juga untuk guru dan tenaga kependidikan. 


Memang belum ada penelitian atau survei di Indonesia tentang berapa banyak kekerasan yang terjadi pada guru dan tenaga kependidikan di sekolah. Namun, pemberitaan di media massa beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa kekerasan guru cenderung meningkat, baik secara jumlah, intensitas, dan jenisnya. Tidak hanya kepada guru, kekerasan juga terjadi kepada tenaga kependidikan. Peristiwa penyerangan kepala sekolah oleh orang tua siswa di Sulawesi Utara pada pertengahan Februari 2018 merupakan salah satu contoh kekerasan terhadap tenaga kependidikan. 

Kekerasan terhadap pendidik ternyata tidak hanya terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Di negara maju, seperti Amerika Serikat kekerasan terhadap guru juga terjadi. Survei yang dilakukan oleh American Psychological Association, sebuah organisasi profesional dalam bidang psikologi, sekitar 80 persen pendidik di Amerika Serikat dilaporkan pernah menjadi korban kekerasan di sekolah antara 2010-2011. Sementara itu menurut kajian Departemen Pendidikan Amerika Serikat dari 2011-2012, sebanyak 20 persen guru sekolah umum dilaporkan dilecehkan secara verbal, sepuluh persen dilaporkan terancam secara fisik, dan lima persen dilaporkan diserang secara fisik di sekolah. 

Pasca peristiwa kekerasan yang terjadi terhadap pendidik dan tenaga kependidikan itu, muncul beragam tanggapan dan komentar dari sejumlah pengamat dan pelaku pendidikan. Seperti yang disampaikan guru besar emeritus dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Said Hamid Hasan, bahwa kasus tersebut harus dimaknai sebagai instrospeksi terhadap pola pengajaran di sekolah. 

Pengamat pendidikan, Doni Koesuma mengatakan, tindakan kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan memiliki banyak faktor. Jika diperhatikan lebih jauh maka akar penyebab kekerasan itu berbeda-beda di tiap sekolah. Meski pemicunya berbeda, dia yakin alasan utamanya adalah karena tidak adanya harmonisasi. Disharmonisasi ini terjadi pada tiga elemen penting lingkungan pendidikan yaitu, sekolah, keluarga, dan lingkungan. 

Sementara itu pengajar Program Doktor di Universitas Negari Jakarta, Saifur Rohman berpendapat, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen memberikan amanat dalam Pasal 10 Ayat 1 tentang pentingnya empat kompetensi dasar bagi guru, yaitu kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional. Seorang guru dituntut tak hanya mampu mengontrol emosi, tetapi juga santun di dalam sekolah, sehingga menjadi teladan bagi siswanya.

Hanya seorang gelandangan yang sedang mencari tujuan hidup

1 komentar

kekerasan guru ma karena mungkin murid'a yang badung ... kasian guru yang gaji'a kecil...

Berkomentarlah dengan cerdas dan santun
EmoticonEmoticon