Monday, February 11, 2019

Pengertian Puisi Bebas

Puisi bebas merupakan puisi yang tidak terikat oleh aturan-aturan tertentu, baik dalam baris, bait, ataupun rima.


Berikut ini pengertian puisi bebas menurut beberapa ahli:

Kartini (2011: 4) mengemukakan bahwa puisi bebas merupakan puisi yang tidak terikat oleh aturan-aturan tertentu, baik dalam baris, bait, maupun pilihan kata.

Suroto (1989: 58) menjelaskan bahwa puisi bebas termasuk ke dalam puisi modern, bentuk puisi yang benar-benar bebas maksudnya bebas dalam bentuk maupun isi. Jenis puisi modern tidak lagi terikat oleh aturan jumlah baris, rima atau ikatan lain yang biasa digunakan pada puisi lama (dalam Sulkifli, dkk. Jurnal Bahasa Vol. 1, No. 1, 2016).

Aminnudin (2002: 15) mengemukakan bahwa puisi bebas merupakan puisi yang tidak terikat oleh rima dan matra, tidak terikat oleh jumlah larik pada setiap bait, dan jumlah suku kata dalam setiap larik (dalam Hastuti, dkk. Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra Indonesia dan Pengarangnya Vol. 4 No. 1, 2016).

Cahaya (dalam jurnal RAT Vol. 3 No. 3, 2014) puisi bebas merupakan puisi yang tidak terikat pada jumlah baris disetiap bait, jumlah suku kata disetiap baris dan rima.
Read More

Thursday, February 7, 2019

Langkah-langkah Menulis Puisi


Menurut Ganie (2010: 115) dalam menulis puisi ada beberapa tahapan-tahapan, diantaranya sebagai berikut:

a. Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan, seorang penyair harus menetapkan pokok pikiran yang akan diungkapkannya, atau pokok perasaan yang akan diekspresikannhya. Berkaitan dengan penentuan pokok pikiran dan perasaan, seorang penyair pada umumnya mendasarkan dirinya pada inspirasi (sumber ilham) yang sedang merasuk dengan hebat di dalam pikiran dan perasaan ketika itu. Inspirasi itu bisa datang dari mana saja, seperti pengalaman fisik, pengalaman batin, bahan bacaan, dan sumber-sumber inspirasi lainnya.

b. Tahap Pengendapan
Pada tahap pengendapan (inkubasi), seorang penyair harus mengerahkan segenap kemampuan kreatif yang dimilikinya agar dapat dengan mudah mengungkapkan pikiran dan mengekspresikan perasaannya secara tertulis. Dalam tahap ini, penyair harus berusaha memperkaya wawasannya mengenai pokok pikiran dan pokok perasaannya, contohnya seperti membaca sebanyak mungkin bahan-bahan tertulis yang isinya berhubungan langsung dengan apa yang akan diungkapkan atau diekspresikannya secara tertulis.

c. Tahap Pembulatan Inspirasi

Pada tahap ini, pikiran yang akan diungkapkan dan perasaan yang akan diekspresikan sudah mulai memasuki proses pengkristalan di wilayah bawah sadar, sudah mulai terbentuk secara imajinatif, dan sudah siap untuk dituangkan secara tertulis dalam bentuk puisi yang masih kasar.

d. Tahap Penulisan

Pada tahap ini, penyair harus duduk di meja tulis atau duduk di depan komputer dengan berusaha menuliskan segala sesuatu yang selama ini dipikirkan dan dirasakannya pada tahap pengendapan dan pembulatan inspirasi. Semuanya dituangkan secara tertulis tanpa kontrol diri, spontan, penuh gairah (seperti orang mabuk obat ekstasi), tanpa pertimbangan rasio, tanpa penilaian tepat tidaknya, tanpa penilaian baik buruk, dan tanpa nalar. Pada tahap ini, tidak ada kegiatan yang dilakukan oleh penyair kecuali menulis. Puisi yang dihasilkan pada tahap ini yakni puisi yang masih kasar, karena masih bersifat draf, yakni rancangan awal puisi yang masih harus dipoles lebih lanjut. Jadi bukan naskah jadi yang siap dipublikasikan secara terbuka di berbagai koran/majalah atau dalam bentuk buku tercetak.

e. Tahap Revisi

Pada tahap ini, penyair melakukan revisi terhadap draf naskah kasar. Perevisian dilakukan dengan memanfaatkan pengetahuan mengenai puisi dan kebahasaan yang ada padanya, dan memanfaatkan sensitifitasnya sebagai seorang penyair yang kreatif. Pada tahap ini, seorang penyair akan membuang kosakata yang dinalar tidak perlu, dan menambahkan kosakata yang dianggap perlu serta mengotak-atik kosakata.

f. Tahap Kiat Mengolah Kosakata

Ketika melakukan proses kreatif penulisan puisi, seorang penyair mau tidak mau akan menghadapi masalah diksi, yakni masalah pemilihan kata-kata yang paling indah. Berkaitan dengan masalah diksi, seorang penyair harus terlebih dahulu memilih ragam/jenis bahasa yang akan digunakannya sebagai sarana pengucapan dalam puisinya, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa tidak baku, dan bahasa asing.
Read More

Monday, February 4, 2019

Jenis-jenis Puisi


Menurut Prihantini (2015: 204-209) menyebutkan secara umum puisi terbagi menjadi tiga jenis, yakni (a) puisi lama; (b) puisi baru: (c) puisi kontemporer.

1. Puisi lama
Puisi lama merupakan puisi-puisi yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Puisi lama pada umumnya menggunakan bahasa melayu. Ada beberapa jenis puisi lama diantaranya sebagai berikut.

a. Pantun

Pantun merupakan puisi melayu asli yang terdiri atas bagian sampiran dan isi.

b. Talibun
Talibun yakni puisi melayu lama sejenis pantun yang sampirannya bergantung pada jumlah baris tiap baitnya.

c. Seloka (pantun berkait)
Seloka (pantun berkait) yakni puisi melayu klasik yang berisi pepatah ataupun perumpamaan yang mengandung sendau gurau, sindiran, ataupun ejekan.

d. Karmina (pantun kilat)
Karmina (pantun kilat) yakni puisi melayu lama yang jumlah barisnya lebih sedikit dari pantun.

e. Gurindam
Gurindam yakni puisi lama yang berasal dari Tamil (India), yang berisi nasihat.

f. Syair
Syair yakni jenis puisi lama yang berasal dari Persia (Iran) yang semua barisnya berupa isi.

g. Mantra
Mantra yakni bunyi, suku kata, ataupun sekumpulan kata-kata yang dianggap mampu menciptakan perubahan.

2. Puisi baru
Puisi baru merupakan puisi yang memiliki bentuk lebih bebas daripada puisi lama, baik dari segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Ditinjau dari bentuk dan isinya, puisi baru dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, sebagai berikut.

a. Puisi naratif
Puisi naratif merupakan puisi di dalamnya mengandung unsur suatu cerita.

b. Puisi lirik

Puisi yang berisi luapan batin seorang penyair dengan segala macam endapan pengalaman, sikap ataupun suasana batin yang melingkupinya disebut puisi lirik.

c. Puisi deskriptif
Puisi deskriptif merupakan puisi yang memberikan kesan terhadap suatu peristiwa, benda, ataupun suasana yang dipandang menarik perhatiannya.

d. Puisi dramatik
Puisi yang menggambarkan perilaku seseorang secara objektif, baik lewat dialog maupun monolog yang mengandung suatu gambaran kisah tertentu disebut puisi dramatik.

3. Puisi Kontemporer

Puisi kontemporer merupakan puisi yang lahir dalam kurun waktu terakhir, yang penyusunannya berusaha menyimpang dari ketentuan umum.
Read More

Saturday, February 2, 2019

Unsur-unsur Puisi


Puisi merupakan sebuah karya sastra yang mengekspresian perasaan seseorang yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama dan penuh makna. Secara garis besar, unsur-unsur yang membangun puisi dibagi menjadi dua macam, yakni struktur fisik dan struktur batin.

Menurut Waluyo (dalam Kosasih, 2012: 97) secara garis besar, unsur-unsur puisi terbagi ke dalam dua macam, yakni unsur fisik dan unsur batin.

1. Unsur fisik
Unsur fisik meliputi hal-hal sebagai berikut.

a. Diksi (Pemilihan Kata)
Kata-kata yang digunakan dalam puisi merupakan hasil pemilihan yang sangat cermat. Kata-katanya merupakan hasil pertimbangan, baik itu makna, susunan bunyinya, maupun hubungan kata itu dengan kata-kata lain dalam baris dan baitnya. Kata-kata dalam puisi bersifat konotatif dan denotatif. Kata-kata yang dipilih hendaknya bersifat puitis, yang mempunyai efek keindahan. Bunyinya harus indah dan mempunyai keharmonisan dengan kata-kata lainnya.

b. Pengimajinasian
Pengimajinasian adalah kata atau susunan kata yang dapat menimbulkan khayalan atau imajinasi. Dengan daya imajinasi tersebut, pembaca seolah-olah merasa, mendengar, atau melihat sesuatu yang diungkapkan penyair.

c. Kata Konkret
Kata konkret merupakan kata-kata yang dapat diterima oleh panca indera manusia dan dapat membangkitkan imajinasi para pembaca. Dalam membangkitkan imajinasi, kata-kata yang digunakan harus diperkonkret atau diperjelas, sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, merasakan apa yang dialami oleh sang penyair.

d. Bahasa Figuratif (Majas)
Majas (figurative language) ialah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara membandingkan dengan benda atau kata lain. Majas mengiaskan atau mempersamakan sesuatu dengan hal yang lain. Maksudnya, agar gambaran benda yang dibandingkan itu lebih jelas.

e. Rima atau Ritma
Rima dapat diartikan juga sebagai pengulangan bunyi dalam puisi. Dengan adanya rima, suatu puisi menjadi indah. Makna yang ditimbulkan juga lebih kuat. Selain rima, ritma juga merupakan unsur fisik puisi, yang diartikan sebagai pengulangan kata, frase, atau kalimat dalam bait-bait puisi.

f. Tata wajah (Tipografi)
Tipografi merupakan pembeda yang penting antara puisi dengan prosa dan drama. Larik-larik puisi tidak berbentuk paragraf, melainkan membentuk bait.

2. Unsur Batin

Unsur batin meliputi hal-hal sebagai berikut.
a. Tema
Tema ialah gagasan pokok atau ide pikiran yang diungkapkan seorang penyair ke dalam puisinya. Tema berfungsi sebagai landasan utama penyair dalam puisinya. Tema itulah yang menjadi kerangka pengembangan sebuah karya puisi. Jika landasan awalnya tentang keindahan alam, maka keseluruhan struktur puisi tersebut tak lepas dari unsur keindahan alam.

b. Perasaan

Puisi merupakan sebuah karya sastra yang mewakili ekspresi perasaan seorang penyair. Bentuk ekspresi tersebut dapat berupa kerinduan, kegelisahan atau pengagungan kepada kekasih, alam atau kepada Sang Khalik.

c. Nada dan suasana

Nada puisi merupakan sikap atau cara seorang penyair dalam menyampaikan puisinya sehingga efeknya terasa oleh pembacanya. Dalam menulis puisi, penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca, misalnya seperti bersikap menasehati, mencela, menggurui, mengejek, menyidir atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. Adapun suasana merupakan keadaan jiwa atau efek yang dirasakan pembaca setelah membaca puisi.

d. Amanat

Amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisi. Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair dapat ditelaah setelah kita memahami tema, rasa, dan nada puisi.
Read More

Friday, February 1, 2019

Pengertian Puisi Menurut Para Ahli

Puisi merupakan sebuah karya sastra yang mengekspresian perasaan seseorang yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama dan penuh makna.


Berikut ini pengertian puisi menurut para ahli:

Pradopo (2002: 7) menjelaskan bahwa puisi merupakan sebuah pengekspresian pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama.

Prihantini (2015: 202) menyatakan bahwa puisi merupakan suatu jenis karya sastra yang memiliki unsur sajak, bait, baris, dan tipografi. Puisi juga diartikan sebagai ragam sastra yang meluapkan perasaan seseorang yang berbalut pemikiran, wawasan, dan sentuhan hati.

Hudson (dalam Aminuddin, 2013: 134) mengungkapkan bahwa puisi yakni salah satu cabang sastra yang mengungkapkan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya.

Kosasih (2012: 97) menyatakan bahwa puisi yakni bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan kaya akan makna. Keindahan sebuah puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima dan irama yang terkandung dalam karya sastra itu.

Slamet (2014: 124) menyatakan bahwa puisi merupakan karya sastra yang berbentuk untaian bait demi bait yang relatif memperhatikan irama dan rima sehingga indah dan efektif didendangkan dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan bentuk karya sastra lainnya.
Read More

Tuesday, January 15, 2019

Tahap-tahap Proses Menulis


Menurut Tompkins (dalam Susanto, 2016: 256) menguraikan bahwa, proses menulis terbagi menjadi lima tahap, sebagai berikut.

a. Tahap pra-menulis (prewriting)
Tahap ini merupakan tahap siap menulis, atau disebut juga dengan tahap penemuan menulis. Aktivitas dalam tahap ini meliputi: 1) memilih topik; 2) memikirkan tujuan, bentuk dan audiensi; 3) memanfaatkan dan mengorganisasi gagasan-gagasan. Pada tahap pra-menulis siswa berusaha mengemukakan apa yang akan mereka tulis.

b. Tahap penyusunan draf tulisan (drafting)
Dalam proses menulis, siswa menyaring tulisan dengan melalui sejumlah konsep. Selama tahap penyusunan konsep, siswa terfokus dalam pengumpulan gagasan. Perlu disampaikan kepada siswa bahwa pada tahap ini tidak perlu merasa takut dalam melakukan kesalahan. Kesempatan dalam menuangkan ide-ide/gagasan dilakukan dengan sedikit memerhatikan ejaan, tanda baca, dan kesalahan mekanikal yang lain. Aktivitas dalam tahap ini meliputi: 1) menulis draf kasar; 2) menulis konsep utama; dan 3) menekankan pada pengembangan isi.

c. Tahap perbaikan (revisi)
Dalam tahap perbaikan, penulis menyaring ide-ide dalam tulisan mereka. Siswa biasanya mengakhiri proses menulis setelah mereka melengkapi draf kasar dan percaya bahwa tulisan mereka telah lengkap. Revisi bukanlah penyempurnaan tulisan, akan tetapi revisi yakni mempertemukan kebutuhan pembaca dengan menambah, mengganti, menghilangkan, dan menyusun kembali bahasa tulisan. Aktivitas ini meliputi: 1) membaca ulang draf kasar; 2) menyempurnakan draf kasar dalam proses menulis; dan 3) memerhatikan bagian yang mendapat balikan kelompok menulis.

d. Tahap penyuntingan (editing)
Pada tahap penyuntingan, siswa menyempurnakan tulisan mereka dengan mengoreksi ejaan dan kesalahan mekanikal yang lain. Tujuannya agar membuat tulisan menjadi siap baca secara optimal. Aktivitas dalam tahap ini meliputi 1) mengambil jarak dari tulisan; 2) mengoreksi awal dengan menandai kesalahan; dan 3) mengoreksi kesalahan.

e. Tahap pemublikasian (publishing)
Pada tahap akhir ini, siswa sudah siap memublikasikan tulisan yang telah mereka buat dan menyempurnakannya dengan membaca pendapat dan komentar yang diberikan teman atau siswa lain, orang tua, dan komunitas mereka sebagai penulis. Hasil penulisannya dilakukan dengan cara melalui kegiatan penugasan siswa untuk membaca hasil karangan di depan kelas.
Read More

Sunday, January 13, 2019

Fungsi Menulis


Dalam kegiatan berbahasa menulis memiliki fungsi utama yaitu sebagai alat komunikasi secara tertulis dan tidak langsung. Tulisan dapat membantu seseorang dalam menjelaskan pikiran-pikiran kita (Tarigan, 2008: 3).

Menurut Rusyana (dalam Susanto, 2016: 252) fungsi menulis sebagai berikut.

  • Fungsi penataan, yaitu fungsi penataan terhadap gagasan, pikiran, pendapat, imajinasi, serta terhadap pengunaan bahasa, sehingga menjadi tersusun. 
  • Fungsi pengawetan, yaitu untuk mengawetkan pengaturan sesuatu dalam wujud dokumen tertulis.
  • Fungsi penciptaan, yaitu mengarang berarti mewujudkan sesuatu yang baru.
  • Fungsi penyampaian, yaitu mengarang berfungsi dalam menyampaikan gagasan, pikiran, pendapat, imajinasi yang sudah diawetkan menjadi suatu karangan.
  • Fungsi melukiskan, yaitu menggambarkan atau mendeskripsikan sesuatu.
  • Fungsi memberi petunjuk, yaitu di dalam karangan, penulis memberikan petunjuk tentang cara atau aturan melaksanakan sesuatu.
  • Fungsi memerintahkan, yaitu penulis memberikan perintah, permintaan, anjuran, dan nasihat agar penbaca menjalankannya atau larangan agar pembaca tidak melakukan apa yang dilarang penulis.
  • Fungsi mengingat, yaitu penulis mencatat suatu peristiwa, keadaan, dan keterangan dengan maksud agar tidak ada yang terlupakan dalam karangan.
  • Fungsi korespondensi, yaitu fungsi surat dalam memberitahukan, menanyakan, memerintahkan atau meminta sesuatu kepada orang yang dituju, mengharapkan orang itu untuk memenuhi apa yang dikemukakannya itu serta membalasnya dengan tertulis pula.

Menurut Tarigan (2008: 22) fungsi utama dari tulisan yakni sebagai alat komunikasi tidak langsung. Menulis memiliki fungsi sebagai berikut.
  • Memudahkan para pelajar berpikir.
  • Menolong berpikir secara kritis.
  • Memudahkan dalam merasakan dan menikmati hubungan-hubungan.
  • Memperdalam daya tangkap atau persepsi.
  • Memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
  • Menyusun urutan bagi pengalaman
  • Membantu menjeaskan pikiran-pikiran yang dimiliki.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas peneliti menyimpulkan bahwa, ada beberapa fungsi dalam menulis, yakni dapat membantu seseorang berpikir kritis, memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya, serta dapat membangkitkan pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dari dalam alam bawah sadar kita.
Read More